my blog


Click here for Myspace Layouts

Minggu, 25 Desember 2011

MAKALAH PERANG KOREA SELATAN DAN KOREA UTARA

MAKALAH
PERANG KOREA SELATAN DAN KOREA UTARA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata Kuliah Hukum Pidana Internasional oleh Iwan Setiawan, SH., MH




Disusun oleh :

NENG PEPI DWI CAHYANTY     3300100042
YUNIA LESTARI                           3300100144
EGA NOPALINDA                         3300100005
FARIS NURUL ARIFIN                 3300100012
NOFI PRAYOGI                             3300100015




FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2011




KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Alloh Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat dan karunianya, sholawat dan salam semoga terlimpahkan pada teladan umat manusia, Muhmmad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Makalah ini ditunjukan dalam rangka memenuhi salah satu tugas Dosen di Fakultas Hukum Universitas Galuh Ciamis dimana pada pelaksanaan penyusunan materi ini penulis banyak mendapat berbagai kesulitan, tapi Alhamdulillah dapat dilewati dengan lancar.
Untuk melengkapi makalah ini beberapa pihak sudah banyak membantu pada penulis secara moral maupun materil. Kerana itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih. Khususnya kepada Iwan Setiawan, S.H., M.H., sebagai dosen mata kuliah Hukum Pidana Internasional yang telah memberi nasehat sebelum dan sesudah makalah ini mengenai Perang Korea Selatan Dan Korea Utara.
Disadari oleh penulis bahwa makalah  ini masih banyak kekurangannya, maka dari itu penulis menanti kritik dan saran yang bersifat memperbaiki kekurangannya itu. Dan semoga dapat memperbesar manfaat makalah ini sebagai referensi.
Makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dari semua pihak, oleh karna itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Ciamis,   Desember 2011

Penulis




DAFTAR ISI
                                                                                                                                                                                                                                                  Halaman
KATA PENGANTAR………………….........................................          
DAFTAR ISI……............................................................................                       
BAB I PENDAHULAN……….......................................................                    
1.1  Latar Belakang Pemasalahan………...........................................           
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................          
1.3 Tujuan……...................................................................................          
BAB II LANDASAN TEORI.........................................................            
BAB III PEMBAHASAN………....................................................          
3.1  Kronologi  Konflik Antara Korea Utara Dan Korea Selatan …..                      
3.2  Penyebab Perang Korea Utara dan Korea Selatan……………..            
3.3 Penyelesaian Perang Korea Utara dan Korea Selatan…………             
BAB IV PENUTUP……….............................................................           
4.1 Kesimpulan...................................................................................            
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………         



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perang antar dua Korea kembali memanas 10 Agustus 2011, saat Korea Selatan dengan Amerika Serikat melakukan latihan militer bersama. Latihan militer tersebut diduga sengaja memancing suasana panas kedua Korea,Korea Utara menembakan tiga artileri ke arah perbatasan utara Korea Selatan di Laut Kuning. Tidak tinggal diam militer Korea Selatan langsung membalasnya dengan tembakan yang sama. Tembakan Korea Utara jatuh di perairan dekat pulau Yeonpyoeng yang sempat menjadi sasaran tembak November tahun lalu, yang menewaskan empat orangPerang antar dua Korea juga pernah terjadi dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutu PBB-nya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Maka dari itu penulis tertarik untuk membahas tentang konflik antar dua Korea tersebut yang penuh kontropersi dunia Internasional karena selalu melibatkan Amerika Serikat dan Rusia.

1.2  Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah :

  1.     Kronologis Perang Korea Utara – Korea Selatan
  2.     Penyebab Perang Korea Utara- Korea Selatan
  3.     penyelesaian tentang konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan 

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

  1.        Menjabarkan Kronologis Perang Korea Utara – Korea Selatan
  2.     Menganalisa penyebab Perang Korea Utara- Korea Selatan
  3.     Mengetahui penyelesaian tentang konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan 
                                   

BAB II
LANDASAN TEORI


Yang dibahas pada bagian ini adalah teori-teori tentang ilm-ilmu yang diteliti. Penyajian teori dalam landasan teori dianggap tidak terlalu sulit karena bersumber dari bacaan-bacaan. Akibatnya terjadilah penyajian materi yang tidak proporsional, yaitu mengambil banyak teori walaupun tidak mendasari bidang yang diteliti. Jadi seharusnya teori yang dikemukakan harus benar-benar menjadi dasar bidang yang diteiti. Selain itu, pada bagian ini juga dibahas temuan-temuan penelitian sebelumnya yang terkait langsung dengan penelitian. Teori yang ditulis orang lain atau temuan penelitian orang lain yang dikutip harus disebut sumbernya untuk menghindari tuduhan sebagai pencuri karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Etika ilmiah tidak membenarkan seseorang melakukan pencurian karya orang lain.
Landasan Teori yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu observasi dokumentasi yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai buku dan browsing di internet.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Kronologi  Konflik Antara Korea Utara Dan Korea Selatan 
Perang antar dua Korea pernah terjadi dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutu PBB-nya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB.
Sekutu Korea Utara, seperti Republik Rakyat Tiongkok, menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet yang menyediakan penasihat perang dan pilot pesawat, dan juga persenjataan, untuk pasukan Tiongkok dan Korea Utara. Di Amerika Serikat konflik ini diistilahkan sebagai aksi polisional di bawah bendera PBB daripada sebuah perang, dikarenakan untuk menghilangkan keperluan kongres mengumumkan perang. 25 Juni 1950 - artileri telah diluncurkan, tank-tank dan pasukan infanteri Tentara Korea Utara mulai menyerang Korea Selatan, sebuah kawasan di selatannya berseberangan haluan secara politik, yang hanya dipisahkan garis imajiner 38˚. 4 Januari 1951 - Tentara Korea Utara yang dibantu Cina berhasil menguasai Seoul. 27 Juli 1953 - Amerika Serikat, RRC, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan saat itu, Seungman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Secara resmi, perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.
60 tahun kemudian.

26 Maret 2010 - kapal perang Korea Selatan Cheonan tenggelam. Korsel menaruh curiga pada Korut. Hubungan kedua negara memanas. 24 November 2010 - Korut melakukan serangan artileri ke pulau Yeonpyeong yang menjadi markas militer Korsel, dengan melepaskan 200 artileri. Tidak lama kemudian, saksi mata melihat bangunan-bangunan di pulau itu terkena serangan bombardir. Api kemudian langsung membara. Saksi mata mengatakan 60-70 rumah di Yeonpyeong kebakaran akibat serangan artileri. Sekitar 10 menit kemudian, Korsel langsung membalas serangan artileri. Kedua pihak saling balas bombardir. Sementara saksi mata mengatakan warga Yeonpyeong dievakuasi ke dalam bungker. Artileri Korut pun melumpuhkan listrik di Pulau Yeonpyeong, dua warga dilaporkan terluka. Asap mulai mengepul tinggi dari rumah-rumah warga. Pihak militer Korsel menyatakan status siaga tinggi. Kebakaran semakin luas di Pulau Yeonpyeong. Beberapa rumah runtuh setelah terbakar hebat. Jet tempur Korsel langsung diterbangkan ke lokasi.
Pemerintah Korsel langsung menggelar rapat mendadak. Mereka mengatakan akan mengambil tindakan tegas jika Korut melanjutkan provokasi. Namun Presiden Korsel Lee Myung-bak menyerukan upaya untuk meredam aksi saling tembak.
Satu jam berlalu atau sekitar pukul 16.00 waktu Korea, pihak Korsel menyerukan penghentian aksi saling bombardir. Warga Pulau Yeonpyeong mulai diungsikan ke luar pulau dengan perahu nelayan.
Perang bombardir berhenti. Militer Korsel mengumumkan satu tentara tewas, 13 luka-luka termasuk 3 orang luka berat.
Selang beberapa bulan Ketegangan kembali terjadi antara militer Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) di Laut kuning, Rabu, 10 Agustus 2011. Pemicunya, peluru artileri Korut jatuh di perairan dekat perbatasan kedua negara.
Menteri Pertahanan Korsel, Kim Min-seok, yang dikutip kantor berita Associated Press,mengatakan Korut menembakkan tiga artileri ke arah perbatasan utara Korsel di Laut Kuning. Tidak tinggal diam, militer Korsel langsung membalasnya dengan jumlah tembakan yang sama. 
Semua tembakan artileri tersebut jatuh di laut. Tidak dilaporkan adanya korban terluka akibat insiden itu. Tembakan Korut jatuh di perairan dekat pulau Yeonpyeong yang sempat menjadi sasaran tembak November tahun lalu, menewaskan empat orang.
Seorang pejabat Kementerian Pertahanan yang tidak disebutkan namanya mengatakan tembakan terjadi secara tiba-tiba. kala itu kedua belah pihak tidak ada yang tengah melakukan latihan perang. Saat ini, militer Korsel tengah mencari motif yang melatarbelakangi penyerangan tersebut.
Garis perbatasan sengketa kedua negara di Laut Kuning kerap menjadi pemicu ketegangan sejak tahun 1999 yang menewaskan puluhan orang. Korut mengatakan garis batas seharusnya lebih ke arah selatan. 
Namun, pihak Seoul menolak dengan mengatakan jika menuruti Korut maka sektor perikanan di lima pulau Korsel terancam. Selain itu, jika dituruti, maka akses ke pelabuhan Incheon menjadi tertutup.
Sejak perang 1950-1953, Korea Utara dan Korea Selatan tak pernah mengalami perang terbuka dan total, hanya ada serangkaian perang terbatas. Meskipun kedua negara memiliki dukungan negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia), tetap saja tak pernah terjadi perang berskala dan intensitas besar maupun massif. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa perang kedua negara bersaudara ini adalah perang Proxy, atau perang yang tak melibatkan kekuatan utama yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet.

3.2  Penyebab Perang Korea Utara dan Korea Selatan
Penyebab meledaknya perang Korea Utara Vs Korea Selatan terdiri dari 2 versi. Informasi versi Korut, pihak Korsel bersikeras menggelar latihan militer pada selasa sore di wilayah sengketa sekitar puluhan kilometer dari pulau Yeonpyeong dan mengabaikan peringatan dari Korut.
Latihan militer tersebut diduga sengaja memancing suasana panas kedua Korea, sehingga semula Korut telah mengerahkan militer untuk memukul mundur latihan militer yang sifatnya provokasi itu. Langkah ini diambil untuk menekan para provokator.
Pihak Korut menambahkan, jika pihak Korsel berani mengganggu ke perairan DPRK (Korea Utara) maka pihaknya akan mengambil langkah militer. Peringatan itu sudah berulangkali disampaikan kepada pihak Korsel.
Sedangkan Versi Korsel menyalahkan pihak Korut, yang terlebih dahulu meluncurkan roket ke arah Korsel saat berlangsungnya latihan perang sehingga memancing keadaan memanas dan terpaksa Korsel memberikan tindakan militer balasan.
Serangan artileri Korut tersebut menyebabkan 2 tentara Korsel tewas dan beberapa sipil terluka parah. Pihak Korsel juga menambahkan bahwa serangan pelanggaran tersebut merusak sejumlah rumah di Pulau Yeonpyeong, milik Korsel. Di sisi lain, penilaian pengamat akan serangan Korut hanya sebagai bentuk cari perhatian terhadap public akan kekuatan militernya, saat pergantian kekuasaan dari Kim Jong-il kepada anaknya Kim Jong-un.

3.3  Penyelesaian Perang Korea Utara dan Korea Selatan
China akhirnya menyerukan dimulainya kembali perundingan enam pihak (Six-party talks). Upaya itu untuk mencegah agar Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) terpicu kembali untuk menggelar perang saudara secara frontal, seperti 1950-53.  Menurut stasiun televisi CNN, seruan China itu muncul setelah sejumlah negara mengkritik Beijing yang kurang serius menanggapi buruknya ketegangan di Semenanjung Korea pasca serangan artileri ke Pulau Yeonpyeong. Belum ada kesediaan resmi dari kedua Korea atas seruan itu. 
Kalangan pejabat Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain menilai China sebetulnya punya pengaruh besar untuk ikut mendamaikan kedua Korea karena punya hubungan yang erat dengan kedua pihak. Bahkan, China merupakan sekutu terdekat Korut. Status itu tidak dimiliki banyak negara, termasuk AS. 
Ajakan perundingan ini disampaikan juru bicara pemerintah China, Wu Dawei, di Beijing, Minggu  28 November 2010.  Dimulai secara berkala sejak Agustus 2003, forum itu melibatkan Korut, Korea Korsel, AS, Jepang, China, dan Rusia, untuk membahas cara mengatasi konflik dan ancaman senjata nuklir di Semenanjung Korea. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, forum itu terhenti karena meningkatnya lagi ketegangan antara Korut dengan AS dan Korsel.
Pada 2009, Korut secara sepihak menghentikan dialog itu setelah diganjar sanksi PBB setelah melakukan ujicoba rudal. AS dan sekutu-sekutunya khawatir Korut gencar membuat senjata nuklir sehingga harus diberi sanksi, termasuk perdagangan.
Wu menyatakan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di Semenanjung Korea membuat masyarakat internasional, khususnya anggota six-party talks, prihatin. Inilah alasan dasar China mengajak keenam negara; Korsel, Korut, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang, untuk kembali melanjutkan perundingan itu.
Dari pihak China, setelah melakukan pertimbangan yang hati-hati, mengajak melakukan pertemuan darurat di antara para pemimpin delegasi six-party talks pada awal Desember nanti di Beijing untuk bertukar pandangan mengenai masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Six-party talks memiliki peranan yang penting dalam memperkuat komunikasi di antara banyak pihak, meningkatkan denuklirisasi di semenanjung Korea dan menjaga perdamaian dan stabilitas di semenanjung dan Asia Tenggara.
Namun, belum ada kesediaan dari Korut dan Korsel atas ajakan China itu. Bahkan Presiden Korsel, Lee Myung-bak, mengatakan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memulai kembali perundingan tersebut.
Sumber dari pemerintah Korsel yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan bahwa perundingan ini tidak akan menyelesaikan masalah.
“Six-party talk tidak akan bisa menggantikan agresi yang dilakukan oleh Korut. Tindakan nyata perlu dilakukan oleh Korut untuk menunjukkan perubahan kelakuan.”
Sementara itu, senator Amerika Serikat dari negara bagian Arizona, John McCain, mengatakan bahwa perundingan ini memang jalan yang baik. Namun Korut tidak akan berhenti berulah sampai diberikan hukuman yang berat. China, ujarnya, dapat saja menghentikan Korut, namun mereka tidak melakukannya.
China tidak bertindak seperti negara kekuatan besar dunia yang bertanggung jawab. Mereka bisa saja menurunkan ekonomi Korut hingga sedengkul jika mereka mau.
Adapun sanksi yang diberikan kepada Korut bukan berasa dari AS tetapi dari PBB. Resolusi PBB merefleksikan konsensus dari dunia internasional, bahwa tindakan Korut melanggar kewajibannya dan mengancaman keamanan internasional. Ini adalah inti yang menyebabkan sanksi itu dikeluarkan. Dengan tambahan AS juga memberikan sanksi lain untuk Korut. Kami yakin sanksi yang diberikan kepada Korut, ditujukan agar negara itu dapat menghormati kesepakatan yang sudah disepakati sebelumnya. 
Bila Korut dapat mengikuti apa yang telah disepakati dalam Six Party Talks, Semenanjung Korea akan bersih dari nuklir dan tentunya dapat menuju ke normalisasi hubungan kedua Korea. Hal ini dapat mendorong pencabutan sanksi juga. Semua ini dapat dilakukan, tetapi membutuhkan waktu lama dan perubahan dari sikap Korut.


BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Perang antar dua Korea kembali memanas 10 Agustus 2011, saat Korea Selatan dengan Amerika Serikat melakukan latihan militer bersama. Latihan militer tersebut diduga sengaja memancing suasana panas kedua Korea, Korea Utara menembakkan tiga artileri ke arah perbatasan utara Koea Selatan di Laut Kuning. Tidak tinggal diam, militer Korea Selatan  langsung membalasnya dengan jumlah tembakan yang sama. Tembakan Korut jatuh di perairan dekat pulau Yeonpyeong yang sempat menjadi sasaran tembak November tahun lalu, menewaskan empat orang. Perang antar dua Korea juga pernah terjadi dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutu PBB-nya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan.
Untuk penyelesaian konflik yang terjadi di Korea Utara dan selatan yaitu China melakukan perundingan enam pihak (Six-party talks). China sebetulnya punya pengaruh besar untuk ikut mendamaikan kedua Korea karena punya hubungan yang erat dengan kedua pihak. Bahkan, China merupakan sekutu terdekat Korut. Status itu tidak dimiliki banyak negara, termasuk AS. China mengajak keenam negara; Korsel, Korut, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang, untuk kembali melanjutkan perundingan itu.
Adapun sanksi yang diberikan kepada Korut dari PBB, bahwa tindakan Korut melanggar kewajibannya dan mengancaman keamanan internasional. Ini adalah inti yang menyebabkan sanksi itu dikeluarkan.
Bila Korut dapat mengikuti apa yang telah disepakati dalam Six Party Talks, Semenanjung Korea akan bersih dari nuklir dan tentunya dapat menuju ke normalisasi hubungan kedua Korea. Hal ini dapat mendorong pencabutan sanksi juga. Semua ini dapat dilakukan, tetapi membutuhkan waktu lama dan perubahan dari sikap Korut.


DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar